Kubah Masjid Agung Tuban

Di salah satu Provinsi Jawa Timur yang letak nya berada di wilayah Kabupaten Tuban,merupakan wilayah yang memiliki peran signifikan dalam perkembangan ajaran agama Islam yang cukup pesat di tanah air. Karenanya, Tuban disebut Kota Wali. Selain itu,juga di Kabupaten Tuban juga merupakan salah satu kabupaten pertama pada masa pemerintahan Kerajaan Majapahit yang dipimpin bupati yang beragama Islam.

Kubah Masjid Agung Tuban

Masjid Agung Tuban adalah salah satu contoh dari sekian banyak rumah ibadah muslim di Indonesia yang mana memiliki sejarah panjang. Masjid agung Tuban ini didirikan pada abad ke-15 oleh Bupati Tuban pertama yang memeluk agama Islam, yakni Adipati Raden Ario Tedjo. Lokasi masjid agung Tuban ini pun juga sangat strategis karena berada di sekitar alun- alun kota dan tidak jauh dari kompleks makam salah satu wali 9 terkenal yakni Sunan Bonang.

Tampilan luar pada bangunan masjid Tuban ini juga dilapisi dengan aneka macam jenis ornamen yang nampak indah ketika malam hari,dan akan selalu menarik hati setiap pengunjung yang singgah, di setiap jengkal langkah kaki kita,akan selalu di manjaka dengan pemandangan yang eksotis dari Masjid Agung Tuban ini. Jika malam, maka gemerlap lampu warna-warni menambah keindahan. Hal itu, membuat menara-menara masjid berubah-ubah warna.

Komplek tersebut juga tidak pernah sepi didatangi oleh para pengunjung yang mana biasanya melakukan ziarah terlebih dahulu lalu dilanjutkan singgah ke Masjid Agung Tuban. Tak hanya dari segi masyarakat di sekitar saja, para pengunjung ini juga berasal dari berbagai tempat khususnya di Pulau Jawa.

Sebelum mencapai bentuk megah seperti yang terlihat saat ini, masjid agung tuban ini setidaknya telah dipugar beberapa kali. Pada Tahun 1894 dilakukan perombakan pertama dengan menggunakan jasa arsitek Belanda, B.O.W.H.M. Toxopeus. Lalu kemudian dilanjutkan untuk tahap renovasi berikutnya yang terjadi pada tahun pada tahun 1985 bertujuan memperluas bangunan masjid. Pemugaran terakhir dilakukan pada tahun 2004.

Bila dahulu kala masjid agung tuban ini tampak begitu megah pada jamannya dengan arsitektur serta bentuk bangunannya yang khas dan artistik, namun saat ini sosok bangunan itu telah berubah total dan nyaris tak meninggalkan jejak bentuk Bangunan nya.

Pemugaran dan juga pembangunan kembali masjid Agung Tuban ini untuk jangka panjang memang akan menghasilkan bangunan baru yang mana akan jauh lebih modern serta akan nampak lebih megah dan juga indah. Warga Tuban dan juga beberapa pengunjung masjid ini juga akan merasa sangat terkesan dengan tampilan serta Keindahan dan Kemegahan bangunannya.

Kubah Masjid Agung Tuban

Sisa bangunan masjid yang lama hanya tampak pada bagian depan bagian tengah Pintu masuk dengan tambahan sedikit Hiasan yang berada di bagian atasnya,ada pula sebuah bangunan kubah masjid yang mana menjadi tempat untuk berguna untuk wudhu serta terdapat toilet yang dijamin kebersihannya .

Lalu masih ada juga beberapa Lampu antik yang merupakan benda bersejarah dalam masjid agung tuban ini, serta terdapat pula sebuah Prasasti dengan ukuran yang cukup besar..

Pada renovasi terakhir dilakukan beberapa perubahan yang cukup signifikan, seperti halnya penambahan lantai dari satu menjadi tiga lantai, pembangunan sayap kanan dan juga bagian sisi kiri bangunan, pembangunan lainnya yakni terdapat enam menara yang mana sebelumnya hanya ada 2 menara saja, dan sebagainya. Hasilnya, Masjid Agung Tuban menjadi sangat megah dan terlihat lebih elegan seperti yang bisa disaksikan saat ini.

Tampilan luar pada bangunan masjid agung tuban in juga akan mengingatkan pada sebuah bangunan Masjid Imam yang berada di Kota Isfahan, Iran. Pengaruh ini juga yang menjadikan Masjid Agung Tuban tampak memancarkan pesona 1.001 malam dengan permainan lampu penuh warna warni, terutama pada malam hari.

Bagian pada dalam masjid agung tuban ini juga sangat banyak menggunakan pola lengkungan untuk menghubungkan antara tiang penyangga sehingga menghasilkan pola ruang dengan sedikit kolom-kolom, sepertinya terinspirasi dari ruang dalam Masjid Cordoba, di negara Spanyol.

Gaya arsitektur masjid agung Tuban ini juga tidak terlepas dari ciri khas Nusantara,yang mana hal ini dapat anda temui pada pintu dan juga mimbar yang terbuat dari kayu dengan ornamen ukiran khas Jawa. Di sayap mihrab terdapat tangga dari bahan kuningan yang mana hal tersebut mencirikan gaya khas ornamen Jawa Klasik.

Selain pola arsitekturnya, Masjid Agung Tuban juga memiliki keistimewaan lain. Sekitar sepuluh meter dari masjid, berdiri sebuah gedung Museum Kembang Putih yang mana museum tersebut telah banyak menyimpan berbagai benda dan teks bersejarah seperti halnya kitab suci Al-Quran kuno yang mana terbuat dari bahan kulit, lalu ada juga keramik Cina, pusaka, sarkofagus, dan lain sebagainya.

Pada bangunan kubah utama,terlihat lebih kokoh dan megah,yang mana hal itru begitu besar layaknya sebuah bangunan masjid di negara Turki, terdapat juga dua kubah lainnya yang mengapit kubah utama tersebut. Warna yang digunakan pada bangunan kubah masjid Agung Tuban ini juga menggunakan warna yang sangat terang sehingga kemegahan dan keindahan dari masjid kebanggaan warga Tuban ini sangat menonjol ketika malam hari.

Sejatinya Masjid Agung Tuban ini mempunyai nilai filosofis yang lebih dibandingkan dengan beberapa bangunan lainnya yang tentunya masih berada di sekitar kota Tuban. Selain itu, pada kubah utama tersebut di kelilingi oleh ke enam menara yang menjulang tinggi menghasilkan sebuah bangunan masjid yang menakjubkan layaknya seperti suasana di negeri dongeng yang berada di kota Tuban.

Dikisahkan bahwa Kabupaten Tuban adalah salatu dari sekian banyak kota yang memiliki hubungan erat dengan salah satu wali songo, yaitu Sunan Bonang. Meskipun sebenarnya sunan bonang ini tidak hanya bermuara saja di kota Tuban,tapi hingga ke Kabupaten Bojonegoro.

Sunan Bonang merupakan salah satu sunan yang gemar berdakwah dan juga menyebarkan agama islam,namun akan tetapi beliau juga berdakwah di berbagai tempat lainnya di di Luar Pulau Jawa. Namun karena Sunan Bonang wafat dan dimakamkan di Tuban, maka tak jarang mereka juga masyarakat lokal banyak yang menyebutnya dengan sebutan Sunan Tuban. Pada masa ketika beliau masih hidup, Sunan Bonang juga sempat mendirikan sebuah masjid yang bernama masjid Astana,dan masjid ini berada di komplek pemakaman Sunan Bonang.

Dalam menyampaikan dakwahnya, Sunan Bonang atau memiliki nama Raden Makdum Ibrahim selalu menggunakan alat musik tradisional khas Tanah Jawa yang disebut dengan bonang. Alat musik tersebut merupakan sejenis gamelan yang terbuat dari bahan kuningan atau besi lalu jika dipukul menggunakan kayu maka akan menghasilkan suara yang sangat merdu. Alat itulah yang digunakan Sunan Bonang untuk menyebarkan agama Islam sembari berdakwah. Karena pada saat itu Sunan Bonang memulai dakwah dengan di iringi alunan suara merdu dari alat tersebut, maka para penduduk datang dan mendengarkannya serta Sunan Bonang pun mengajarkan berbagai tembang yang berisi ajaran-ajaran tentang agama islam.

Masjid Agung Tuban, yang pada awalnya bernama Masjid jami’, kini tak sekedar masjid yang berdiri megah, namun juga sekaligus menjadi simbol semangat religius masyarakat Tuban.

Categories: Uncategorized

Leave a reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>